Arsip Blog

Memahami Kaidah Asma’ Wa Shifat…

bismillah

Kaidah dalam asma’  Allah [nama-nama Allah]

Kaidah 1

Nama Allah semuanya “husna” mencapai puncak kebaikan/sempurna. Contoh: Ar-Rahman berarti rahmat Allah yang luas. Jika tidak husna, bukan nama Allah. Contoh: Ad-dahru [waktu]

dalam hadist {“jangan mencela ad-dahru, karena akulah “ad-dahru”}[1]

jawabannya: bukan nama Allah karena lanjutan hadist bahwa Allah mengatur waktu: {“ditanganku berbagai urusan, aku membolak-balikkan siang dan malam”}

[www.win-7themes.blogspot.com] (2)Kaidah 2

Nama Allah tidak terbatas, hanya Allah yang tahu jumlahnya

Dalilnya hadits, {“ya, Allah aku memohon kepadamu dengan perantara semua namamu, yang engkau namakan diri-Mu, yang engkau turunkan dalam kitab-Mu, yang engkau ajarkan kepada salah satu hamba-Mu [Muhammad], yang engkau simpan dalam ‘ilmu ghoib-Mu}[2]

 Adapun hadist, {sesungguhnya Allah mempunyai 99 nama…}[3], maka tidak membatasinya

Logikanya: “saya punya uang 1000 rupiah”, maka uang saya tidak terbatas 1000 rupiah saja, masih ada di tabungan juga.

 Kaidah 3

Nama Allah taufiqiyah [berdasarkan wahyu Al-Quran dan As-sunnah], tidak boleh dibuat-buat

Misalnya, tidak boleh: Allah ada maka namanya “wujud”,  Allah yang paling awal maka namanya “Qidam”, Allah kekal maka namanya “Baqa”,

 Kaidah 4

Setiap nama Allah pasti mengandung sifat, sedangkan sifat Allah belum tentu menjadi nama Allah

Contoh: Al-ghafir, maka sifat Allah pasti Maha Mengampuni

Sifat Allah yang turun kelangit dunia sepertiga malam, maka bukan nama Allah “An-Naazil”/yang turun.

Kaidah dalam sifat Allah

Perlu diketahui sebelumnya bahwa kata [صفة] “sifat” dalam bahasa Arab lebih luas dari “sifat” dalam bahasa indonesia, sifat dalam bahasa Arab artinya segala sesuatu yang melingkupinya.

Misal: sifat sholat nabi

Maka, Allah tertawa, punya tangan, marah, datang, turun sepertiga malam disebut sifat.

 Kaidah 1

Semua sifat Allah mulia dan sempurna serta tidak ada kekurangan

Bagaimana dengan Allah “menipu” dalam ayat {“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka”}[4]?

Menipu adalah sifat kurang sempurna, apakah Allah disifati dengan “penipu”?

Jawab: tidak “iya” dan tidak juga “bukan”, tetapi “Allah menipu orang-orang yang berhak ditipu”

 Kaidah 2

Sifat Allah terbagi manjadi 2:

  1. SifatTsubutiyah: sifat yang Allah tetapkan, misalnya hidup, ilmu dan qudrah
  2. Sifatsalbiyah: sifat yang Allah nafi’kan dari dirinya, misalnya dzalim dalam ayat {“dan Rabb-mu tidak mendzalimi sesuatupun”}[5]

Kaidah 3

Sifat tsubutiyah Allah terbagi 2:

1.Dzatiyah: Allah selalu bersifat seperti ini, misalnya mendengar dan melihat
2. Fi’liyah: sifat yang bergantung dengan kehendak Allah, misalnya istiwa’/bersemayam di atas ‘arsy

Bisa juga satu sifat dia juga Dzatiyah dan dia juga Fi’liyah ditinjau dari dua sisi, contoh al-Kalam/berbicara

Dzatiyah karena Allah selalu bersifat bebicara

Fi’liyah karena dilihat dari kapan kehendak Allah ingin berbicara

Kaidah 4

Sifat Allah dipahami secara hakikatnya bukan makna kiasan atau takwil

Contoh: istiwa’/bersemayam di atas ‘arsy bukan maknanya kiasan Allah itu istaula’/menguasai ‘arsy

Allah punya tangan, maka bukan ditakwil Allah punya kekuasaan.

 Pahami secara hakikat, tidak perlu menanyakan bagaimana kaki Allah? Karena Allah tidak memberi tahu. Cukup percaya saja Allah punya kaki sebagaimana anda pahami kata “kaki” selama ini. Anda pasti sudah paham, kakinya ayam, kaki langit, kaki meja dan lain-lain.

Kaidah 5

Dalam sifat tidak boleh:

Tamtsil: menyerupakan dengan makhluknya, misal: tangan Allah seperti tangan raksasa

Takyif: mengumpamakan dengan sesatu yang tidak ada bandingannya, misal berkhayal tangan Allah seperti ini seperti itu.

Tafwid: menyerahkan pada Allah, tidak menetapkan dan tidak pula menafikkan. Contoh: ketika ditanya, “Apakah Allah punya tangan?” jawabannya: “Wallahu a’lam, saya tidak tahu, kita serahkan saja kepada Allah”.

Tahrif: menyelewengkan maknanya

Ta’til: meniadakan nama maupun sifat Allah

Kaidah yang kami bawakan Ini belum mencakup semua kaidah. Semoga pembahasan ringkas ini bermanfaat bagi kaum muslimin.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam. 

Maraji’:

  1. Al-Quwa’idul mutsla fi sifatillahi wa asma’il husna, syaikh Ibnu Al-‘utsaimin, Darul Wathon, Riyadh.  
  2. Syarh lum’atul i’tiqod, syaikh Ibnu Al-‘utsaimin, cetakan pertama, Maktabah Al-‘ilmi, Kairo.

catatan kaki:

[1]  HR. bukhari no.6182

[2] HR. Ahmad 1/391, dishohihkan oleh Al-Albani

[3] HR. Bukhari no. 2736

[4] An-Nisa’: 142

[5] Al-Kahfi: 49

Artikel http://muslimafiyah.com

Hakekad dan Kedudukan Tauhid…

bismillah

Penulis: Ust. Abu Isa Abdullah bin Salam

Tauhid, sebuah kata yang tidak asing lagi bagi kit, khususnya kaum muslimin. Karena pada umumnya kita menginginkan atau bahkan telah mengaku sebagai seorang yang bertauhid. Disamping itu, kata ‘tauhid’ ini sangat sering disampaikan oleh para penceramah baik pada waktu khutbah atau pengajian-pengajian. Akan tetapi bisa jadi masih banyak orang yang belum memahami hakikat dan kedudukan tauhid ini bagi kehidupan manusia, bahkan bagi yang telah merasa bertauhid sekalipun.

Berangkat dari banyaknya pemahaman orang yang telah kabur tentang hakikat tauhid dan lupa akan kedudukannya yang begitu tinggi maka penjelasan yang gamblang tentang masalah ini sangat penting untuk disampaikan. Dan karena permasalahan tauhid merupakan permasalahan agama maka penjelasannya tidak boleh lepas dari sumber ilmu agama yaitu Al Quran dan As Sunnah dengan merujuk kepada penjelasan ahlinya, yaitu para ulama.

Pengertian Tauhid dan Macam-Macamnya

1. Pengertian Tauhid

Para ulama Aqidah mendefinisikan tauhid sebagai berikut: Tauhid adalah keyakinan tentang keesaan Allah subhanahu wa ta’ala dalam rububiyah-Nya, mengikhlaskan ibadah hanya kepada-Nya serta menetapkan nama-nama dan sifat-sifat kesempurnaan bagi-Nya. Dengan demikian maka biasa dikatakan bahwa tauhid terbagi menjadi tiga macam yaitu: Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Asma dan Sifat. Kesimpulan ini diambil oleh para ulama setelah mereka meneliti dalil-dalil Al Quran dan hadits yang terkait dengan keesaan Allah subhanahu wa ta’ala. Untuk lebih jelasnya akan dijabarkan dibawah ini masing-masing tauhid tersebut. (Lihat Aqidatu Tauhid Syaikh Sholih Al Fauzan Hal. 15-16).

2. Macam-Macam Tauhid

a. Tauhid Rububiyah

Tauhid Rububiyah adalah keyakinan tentang keesaan Allah ta’ala di dalam perbuatan-perbuatan-Nya. Yaitu meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya:

– Pencipta seluruh makhluk.

اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ

Allah menciptakan segala sesuatu dan Allah memelihara segala sesuatu.” (QS. Az Zumar: 62)

– Pemberi rizki kepada seluruh manusia dan makhluk lainnya.

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah lah yang memberi rezekinya…(QS. Hud: 6)

– Penguasa dan pengatur segala urusan alam, yang meninggikan lagi menghinakan, menghidupkan lagi mematikan, memperjalankan malam dan siang dan yang maha kuasa atas segala sesuatu.

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ . تُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَتُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَتَرْزُقُ مَنْ تَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ .

Katakanlah: Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan,engkau berikan kerajaan kepada orang yang engkau kehendaki dan engkau cabut kerajaan dari orang yang engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang engkau kehendaki dan engkau hinakan orang yang engkau kehendaki. Di tangan engkaulah segala kebijakan. Sesungguhnya engkau maha kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukan malam kedalam siang dan engkau masukan siang kedalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati dan engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan engkau beri rizki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas). (QS. Ali Imron: 26 -27). (Lihat Aqidatu Tauhid hal 16-17).

Dengan demikian Tauhid Rububiyah mencakup keimanan kepada tiga hal yaitu:

  • Beriman kepada perbuatan-perbuatan Allah secara umum seperti mencipta, memberi rizki, menghidupkan dan mematikan dan lain-lain.
  • Beriman kepada qodho dan qodar Allah.
  • Beriman kepada keesaan Zat-Nya. (Lihat Al Madkhol li dirosatil Aqidah Islamiyah, Ibrahim bin Muhammad Al Buraikan hal 87).

b. Tauhid Asma dan Sifat

Tauhid Asma dan Sifat adalah keyakinan tentang keesaan Allah subhanahu wa ta’ala dalam nama dan sifat-Nya yang terdapat dalam Al Quran dan Al Hadits dilengkapi dengan mengimani makna-maknanya dan hukum-hukumnya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا

Hanya milik Allah Asmaul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaul Husna itu. (QS. Al A’rof: 180)

قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ أَيّاً مَا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى

Katakanlah: Serulah Allah atau serulah Ar Rahman. Dengan Nama yang mana saja kamu seru, dia mempunyai Al Asmaul Husna (nama-nama yang terbaik).(QS. Al Isro: 110)

لِلَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ مَثَلُ السَّوْءِ وَلِلَّهِ الْمَثَلُ الْأَعْلَى

Orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, mempunyai sifat yang buruk; dan Allah mempunyai sifat yang Maha Tinggi.(QS. An Nahl: 60)

وَلَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَى فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

Dan bagi-Nya lah sifat yang Maha Tinggi di langit dan di bumi.(QS. Ar Rum: 27). (Lihat Mu’taqod Ahlu Sunnah Wal Jama’ah fi Tauhidil Asma wa Sifat, DR. Muhammad bin Kholifah At Tamimi hal 31-34).

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam tauhid Asma dan Sifat adalah sebagai berikut:

  • Menetapkan semua nama dan sifat tidak menafikan dan menolaknya.
  • Tidak melampaui batas dengan menamai atau mensifati Allah di luar yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
  • Tidak menyerupakan nama dan sifat Allah dengan nama dan sifat makhluk-Nya.
  • Tidak mencari tahu tentang hakikat bentuk sifat-sifat Allah.
  • Beribadah kepada Allah sesuai dengan tuntutan asma dan sifat-Nya. (Lihat Mu’taqod hal 40-41).

Kedua macam tauhid di atas termasuk dalam satu pembahasan yaitu tentang keyakinan atau pengenalan tentang Allah. Oleh karena itu kedua macam tauhid tersebut biasa disatukan pembahasannya dengan nama tauhid ma’rifah dan itsbat (pengenalan dan penetapan). (Lihat Al Madkhol hal 93).

Pada dasarnya fitrah manusia beriman dan bertauhid ma’rifah dan itsbat. Oleh karena itu orang-orang musyrik dan kafir yang dihadapi oleh para Rasul tidak mengingkari hal ini. Dalilnya adalah firman Allah:

قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلا تَتَّقُونَ

قُلْ مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلا يُجَارُ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ فَأَنَّى تُسْحَرُونَ

Katakanlah: ‘Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ‘Arsy yang besar?’ Mereka akan menjawab, ‘kepunyaan Allah.’ Katakanlah, ‘Maka apakah kamu tidak bertaqwa?’ Katakanlah: ‘Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?’ Mereka akan menjawab, ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah, ‘(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?’(QS. Al Mu’minun: 86-89)

قَالَتْ رُسُلُهُمْ أَفِي اللَّهِ شَكٌّ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ

Berkata rasul-rasul mereka: ‘Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, pencipta langit dan bumi?’(QS. Ibrahim: 10)

Kalaulah ada manusia yang mengingkari Rububiyah dan kesempurnaan nama dan sifat Allah, itu hanyalah kesombongan lisannya yang pada hakikatnya hatinya mengingkari apa yang diucapkan oleh lisannya. Hal ini sebagaimana yang terjadi pada Firaun dan pembelanya.

قَالَ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا أَنْزَلَ هَؤُلاءِ إِلَّا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ بَصَائِرَ وَإِنِّي لَأَظُنُّكَ يَا فِرْعَوْنُ مَثْبُوراً

Musa menjawab: Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mu’jizat-mu’jizat itu kecuali Tuhan yang Maha memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata, dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Firaun seorang yang akan binasa.” (QS. Al Isra: 102)

وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْماً وَعُلُوّاً فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ َ

Dan mereka mengingkarinya karena kedholiman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran) nya.” (QS. An Naml: 14)

Demikian juga pengingkaran orang-orang komunis dewasa ini, hanyalah kesombongan dhohir walaupun batinnya pasti mengakui bahwa tiada sesuatu yang ada kecuali ada yang mengadakan dan tidak ada satu kejadianpun kecuali ada yang berbuat.

أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ

أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بَلْ لا يُوقِنُونَ

Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah merekalah yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). (QS. At Thur: 35-36). (Lihat Aqidatu Tauhid hal 17-18).

c. Tauhid Uluhiyah

Tauhid Uluhiyah adalah mengesakan Allah dalam tujuan perbuatan-perbuatan hamba yang dilakukan dalam rangka taqorub dan ibadah seperti berdoa, bernadzar, menyembelih kurban, bertawakal, bertaubat, dan lain-lain.

وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ

Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.(QS. Al Baqoroh: 163)

وَقَالَ اللَّهُ لا تَتَّخِذُوا إِلَهَيْنِ اثْنَيْنِ إِنَّمَا هُوَ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ

Allah berfirman: Janganlah kamu menyembah dua tuhan. Sesungguhnya Dialah Tuhan Yang Maha Esa, maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut.(QS. An Nahl: 51)

وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهاً آخَرَ لا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ إِنَّهُ لا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ

Dan barangsiapa menyembah tuhan yang lain disamping Allah, padahal tidak ada sesuatu dalilpun baginya tentang itu maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhan-Nya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir tiada beruntung.” (QS. Al Mu’minun: 117). (Lihat Aqidatu tauhid hal 36, Fathul Majid hal 15)

Tauhid inilah yang dituntut harus ditunaikan oleh setiap hamba sesuai dengan kehendak Allah sebagai konsekuensi dari pengakuan mereka tentang Rububiyah dan kesempurnaan nama dan sifat Allah. Kemurnian Tauhid Uluhiyah akan didapatkan dengan mewujudkan dua hal mendasar yaitu:

  • Seluruh ibadah hanya diperuntukkan kepada Allah bukan kepada yang lainnya.
  • Dalam pelaksanaan ibadah tersebut harus sesuai dengan perintah dan larangan Allah. (Lihat Al Madkhol hal 94).

Ketiga macam tauhid di atas memiliki hubungan yang tidak bisa dipisahkan, dimana keimanan seseorang kepada Allah tidak akan utuh sehingga terkumpul pada dirinya ketiga macam tauhid tersebut. Tauhid Rububiyah seseorang tak berguna sehingga dia bertauhid Uluhiyah dan Tauhid Rububiyah, serta Tauhid Uluhiyah seseorang tak lurus sehingga dia bertauhid asma dan sifat. Singkatnya, mengenal Allah tak berguna sampai seorang hamba beribadah hanya kepada-Nya. Dan beribadah kepada Allah tidak akan terwujud tanpa mengenal Allah. (Lihat Mu’taqod hal 47)

Kedudukan Tauhid

Karena pada dasarnya manusia telah mengenal Allah meski secara global, maka para Rasul utusan Allah diutus bukan untuk memperkenalkan tentang Allah semata. Namun hakikat dakwah para Rasul adalah untuk menuntut mereka agar beribadah hanya kepada-Nya. Dengan demikian materi dakwah para rasul adalah Tauhid Uluhiyah. Oleh karena itu istilah tauhid tatkala disebutkan secara bebas (tanpa diberi keterangan lain) maka ia lebih mengacu kepada Tauhid Uluhiyah. Dalam kehidupan manusia tauhid memiliki kedudukan yang sangat tinggi di antaranya sebagai berikut:

1. Hakikat tujuan penciptaan jin dan manusia.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka (hanyalah) menyembah-Ku.(QS. Adz Dzariyat: 56)
Ibnu Abbas menyatakan bahwa perintah menyembah/ibadah dalam firman Allah adalah perintah untuk bertauhid.

2. Hakikat tujuan pengutusan para rasul dan materi dakwah mereka.

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah Toghut (sesembahan selain Allah) itu.” (QS. An Nahl: 36)

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku. (QS. Al Anbiya: 25)

3. Kewajiban pertama bagi manusia dewasa lagi berakal.

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئاً وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang tua ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu.(QS. An Nisa: 36)

Di dalam ayat tersebut Allah memerintahkan untuk bertauhid terlebih dulu sebelum memerintahkan yang lainnya.

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ْ

Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Hak) melainkan Allah, dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mu’min laki-laki dan perempuan.(QS. Muhammad: 19)

Di dalam ayat tersebut Allah memerintahkan untuk bertauhid dahulu sebelum beramal.

4. Pelanggaran tauhid yaitu syirik adalah keharaman yang terbesar.

قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئاً وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً

Katakanlah: Marilah kubacakan apakah yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan dia, berbuat baiklah terhadap dua orang ibu bapak…… (QS. Al Anam: 151)

Allah mendahulukan penyebutan keharaman syirik sebelum yang lainya karena keharaman syirik adalah yang terbesar.

5. Materi dakwah yang pertama kali harus diserukan Ketika Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam mengutus Muadz ke Yaman.

Beliau shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّكَ تَأْتِيْ قَوْماً مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوْهُمْ إِلَيْهِ شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ ـ وَفِيْ رِوَايَةٍ: إِلىَ أَنْ يُوَحِّدُوْا اللهَ

Sungguh kamu akan mendatangi kaum Ahli Kitab maka hendaklah dakwah yang pertama kali kamu sampaikan kepada mereka adalah syahadat Lailaha Illallah-dalam riwayat lain disebutkan: ‘Supaya mereka mentauhidkan Allah’.” (HR. Bukhori dan Muslim). (Lihat Kitabu Tauhid, Syaikh Muhammad At Tamimi bab I, Aqidatu Tauhid hal 36-37)

Demikianlah sekilas tentang tauhid dan kedudukanya semoga tatkala kita mengetahui demikian agungnya kedudukan tauhid dalam kehidupan manusia maka hal itu menjadi pemacu bagi kita supaya mengetahui lebih jauh dan rinci tentang tauhid. Hal ini agar tauhid tidak hanya sebagai pengakuan belaka namun betul-betul terpatri dalam diri kita baik secara dhohir maupun bathin. Semoga Allah memudahkan bagi kita semua untuk menempuh jalan ini. Amin.

Sumber: muslim.or.id

Tauhid dan Tafsir Laa iLaha iLLa Allaah..

bismillah

Oleh Syaikh Muhammad At-Tamimi

Firman Allah Ta’ala:

Artinya : Orang-orang yang diseru oleh kaum musyrikin itu, mereka sendiri senantiasa berusaha untuk mendekatkan diri kepada Tuhan mereka, siapa diantara mereka yang lebih dekat (kepadaNya), dan mereka mengharapkan rahmat-Nya serta takut akan siksa-Nya, sesungguhnya siksa Tuhanmu adalah sesuatu yang (harus) ditakuti.” [Al-Isra’: 57]

Artinya : Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada bapak dan kaumnya; Sesungguhnya aku melepaskan diri dari segala apa yang kamu sembah, kecuali Allah saja Tuhan yang telah menciptakan aku, karena hanya Dia yang akan menunjukiku (kepada jalan kebenaran).” [Az-Zukhruf: 26-27]

Artinya : Mereka, menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan (mereka mempertuhankan pula) Al-Masih putera Maryam, padahal mereka itu tiada lain hanyalah diperintahkan untuk beribadah kepada Satu Sembahan, tiada Sembahan yang haq selain Dia. Maha Suci Allah dari perbuatan syirik mereka. [At-Taubah: 31]

Artinya : Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, yaitu dengan mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah…” [Al-Baqarah: 165]

Diriwayatkan dalam Shahih (Muslim), bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Artinya : Barangsiapa mengucapkan Laa ilaha illa Allah dan mengingkari sesembahan selain Allah, haramlah harta dan darahnya, sedang hisab (perhitungan)nya adalah terserah kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Kandungan dalam tulisan ini:

[1]. Ayat dalam surah Al-Isra’. Diterangkan dalam ayat ini bantahan terhadap kaum musyrikin yang menyeru (meminta) kepada orang-orang shaleh. Maka, ayat ini mengandung sesuatu penjelasan bahwa perbuatan mereka itu syirik akbar.

[2]. Ayat dalam surah Bara’ah (At-Taubah). Diterangkan dalam ayat ini bahwa kaum Ahli Kitab telah menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan diterangkan bahwa mereka tiada lain hanya diperintahkan untuk beribadah kepada Satu Sembahan yaitu Allah. Padahal tafsiran ayat ini, yang jelas dan tidak dipermasalahkan lagi, yaitu mematuhi orang-orang alim dan rahib-rahib dalam tindakan mereka yang bertentangan dengan hukum Allah; dan maksudnya bukanlah kaum Ahli Kitab itu menyembah mereka. Dapat diambil kesimpulan dari ayat ini bahwa tafsiran “Tauhid” dan Syahadat “Laa ilaha illa Allah” yaitu: pemurnian ketaatan kepada Allah, dengan menghalalkan apa yang dihalalkan Allah dan mengharamkan apa yang diharamkan-Nya.

[3]. Kata-kata Al-Khalil Ibrahim ‘alaihissalam kepada orang-orang kafir: “Sesungguhnya aku melepaskan diri dari apa yang kamu sembah, kecuali Allah saja Tuhan yang telah menciptakan aku…” Disini beliau mengecualikan Allah dari segala sembahan. Pembebasan diri (dari segala sembahan yang bathil) dan pernyataan setia (kepada Sembahan yang haq, yaitu Allah) adalah tafsiran yang sebenarnya dari syahadat “Laa ilaha illa Allah.” Allah Ta’ala berfirman: “Dan Ibrahim menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya, supaya mereka kembali (kepada jalan kebenaran). (Az-Zukhruf: 28)

[4]. Ayat dalam surah Al-Baqarah yang berkenaan dengan orang-orang kafir, yang dikatakan oleh Allah dalam firman-Nya: “Dan mereka tidak akan dapat keluar dari neraka.” Disebutkan dalam ayat tersebut bahwa mereka menyembah tandingan-tandingan selain Allah, yaitu dengan mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Ini menunjukkan bahwa mereka mempunyai kecintaan yang besar kepada Allah, akan tetapi kecintaan mereka itu belum bisa memasukkan mereka kedalam Islam. Dari ayat dalam surah Al-Baqarah ini dapat diambil kesimpulan bahwa tafsiran “tauhid” dan syahadat “Laa ilaha illa Allah” yaitu: pemurniaan kecintaan kepada Allah yang diiringi dengan rasa rendah diri dan penghambaan hanya kepada-Nya.

Lalu bagaimana dengan orang yang mencintai sembahan-nya lebih besar daripada kecintaannya kepada Allah? Kemudian, bagaimana dengan orang yang hanya mencintai sesembahan selain Allah itu saja dan tidak mencintai Allah?

[5]. Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barang siapa mengucapkan Laa ilaha illa Allah dan mengingkari sesembahan selain Allah, haramlah harta dan darahnya, sedang hisab (perhitungan)nya adalah terserah kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Ini adalah termasuk hal terpenting yang menjelaskan pengertian “Laa ilaha illa Allah”. Sebab apa yang dijadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pelindung darah dan harta bukanlah sekedar mengucapkan kalimat “Laa ilaha illa Allah” itu, bukan pula dengan mengerti makna dan lafadznya, bukan pula dengan mengakui kebenaran kalimat tersebut, bahkan bukan juga tidak meminta kecuali kepada Allah saja, yang tiada sekutu bagi-Nya. Akan tetapi tidaklah haram dan terlindung harta dan darahnya hingga dia menambahkan kepada pengucapan kalimat “Laa ilaha illa Allah” itu pengingkaran kepada segala sembahan selain Allah. Jika dia masih ragu atau bimbang, maka belumlah haram dan terlindung harta dan darahnya.

Sungguh agung dan penting sekali tafsiran “Tauhid” dan syahadat “Laa ilaha illa Allah” yang terkandung dalam hadits ini, sangat jelas keterangan yang dikemukakannya dan sangat meyakinkan argumentasi yang diajukan bagi orang yang menentang.

[Dikutip dari buku: “Kitab Tauhid” karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.
Penerbit: Kantor Kerjasama Da’wah dan Bimbingan Islam, Riyadh 1418H]

Artikel : mkismangemolong.wordpress.com

%d blogger menyukai ini: