Category Archives: Buletin an-Naba’

Bincang Santai Valentine’s Day

bismillahHey.. met valentine ya, ini coklat buat kamu.. semoga kamu suka ya..

Pernah ga’ sohib naber’s dapat coklat atau ucapan yang semacam itu? Mungkin dari teman? Kerabat? Atau dari pasangan yang tak halal? (alias Pacar). Hmmm…..14 Februari siapa sich yang ga tau hari apa itu..? Hampir semua orang tau, ada apa sich misteri di tanggal 14 Februari. Iya kan..? hayoo.. ngaku sohib naber’s.. Pernah ga kalian denger Valentine Days, itu tuuh..yang katanya hari kasih sayang (Emang bener yak..? wah kasihan bener kasih sayangnya cuman 1 hari)

Yappps…14 Februari adalah hari yang sangat istimewa bagi para pendewa Valentine’s Day. Pada hari itu mereka mengungkapkan rasa cinta dan kasih sayang kepada orang yang diinginkan. (Ah masak seeh..?) Ada yang menyatakan perasaannya kepada teman, guru, orang tua, kakak atau adik, dan yang paling banyak adalah yg menyatakan kepada kekasihnya, yang sah maupun tidak sah (baca lagi: Pacar). Pada hari itu pula mereka mengirimkan kartu atau hadiah bertuliskan “By my Valentine” (jadilah Valentine-ku) atau sama artinya “Jadilah kekasihku” (Hadeeh.. ya akhwat jangan mau dong digombalin)

Di Indonesia, sejak era 1980-an, perayaan Hari Valentine ini makin memprihatinkan. Jika kita masuk toko buku atau semisalnya di bulan Februari, akan tampak rak-rak yang berjajar berisikan beragam kartu ucapan Valentine’s Day. Tak mau kalah, toko-toko souvenir pun mulai menjajakan aneka kado bertema Valentine’s Day. Mal dan supermarket juga menghias seluruh ruangan dengan warna-warni pink dan biru lembut, dengan hiasan-hiasan berbentuk hati dan pita di mana-mana. Hampir semua media cetak dan elektronik pun menjadi penggerak program misterius ini. Bener ga’ sohibnaber’s ?bener kaaan…?

Kalau kita cermati sedikit saja sohib naber’s..kita dapat mengetahui bahwa perayaan aneh ini tidak lepas dari trik bisnis para pengusaha tempat hiburan, pengusaha hotel, perangkai bunga, dan lainnya. Akhirnya jadilah perayaan Valentine sebagai perayaan bisnis yang bermuara pada perusakan aqidah dan akhlak pemuda islam (khususnya) na’udzubillah min dzalik. Saatnya kita bertanya pada diri kita masing-masing, apa yang sudah kita lakukan dalam penyelamatan generasi penerus kita? Tapi..Hmmm… gak usah jauh-jauh dulu sobat, kita mulai dari diri kita dulu baru orang lain ok? kira-kira apa yang sudah kita lakukan untuk diri kita atau orang lain? Apa to dibalik misteri Valentine kok menjadi pertanyaan? Mari dibaca.. semoga bermanfaat pembahasan berikut.

Valentine’s Day dalam sejarah

Sohib nabers tau nggak asal muasal valentine’s day (VD) yang biasanya paling ditunggu-tunggu di tiap bulan februari? Pastinya dah taukan?

Sedikit kita flashback nich sohib naber’s, gapapa kan…? Hehe. Ribuan literature yang menyebutkan sejarah hari Valentine masih berbeda pendapat. Ada banyak versi tentang asal-usul perayaan Valentine ini. Yang paling popular adalah kisah Valentinus (St. Valentine) yang diyakini hidup pada masa Claudius II yang kemudian menemui ajal pada 14 Februari 269 M. Namun kisah ini ada beberapa versi lagi.Yang jelas dan tidak memiliki silang pendapat adalah kalau kita menilik lebih jauh lagi ke dalam tradisi paganism (dewa-dewi) Romawi Kuno.

Sohib naber’s tau gak kenapa tanggal 14 februari dinamakan valentine’s day ? gak usah mendetai dulu dech memikirnya, coba kita lihat dulu dari hal yang paling mencolok (wiedih… emangnya kaca spion apa?) mangga diwaos lan dipahami nggih? Kata “VALENTIENE’S”,coba kita pahami dari kata tersebut ada yang bergaris bawah (‘S), dalam bahasa english memilikifungsi yaitu sebagai kata tunjuk kepemilikan seseorang, dan orang yang memiliki itu yang dimaksud orang yang bernama St. Valentine. Sedangkan kata “DAY” itu menunjukkan hari. Jadi kalau digabungkan Kata VALENTINE’S DAY” adalah hari yang dikhususkan untuk orang yang bernama St. Valentine. Jadi ngapain kita susah-susah ngrayain valentine lha wong dia itu orang kafir dizaman romawi, akhir hidupnya saja dieksekusi dan kita selaku umat islam masak merayakannya? Kan berdosa, dan tentunya dilarang, ya nggak sobat naber’s..?

Dari kisah diatas dapat kita tarik kesimpulan :

  1. Valentine’s Day berakat dari upacara keagamaan ritual Romawi Kuno untuk menyembah dewa mereka yang dilakukan dengan penuh kesyirikan.
  2. Upacara yang biasa dilaksanakan pada 15Februari tersebut, pada tahun 496 oleh Paus Galasius I diganti menjadi 14 Februari.
  3. Agar dunia menerima, hari itu disamarkan dengan nama “hari kasih sayang” yang kini telah tersebar di berbagai negeri, termasuk negeri-negeri Islam.
  4. Adanya perzinaan dikalangan pemuda-pemudi dan parahnya lagi dewanya pun ikut berzina.

Hmmm… waah jadi..jadi.. jadi.. Valentine Days itu….. ya beginilah fakta sejarahnya coba kita renungi dengan hati yang tenang dan terbuka. sejarah Valentine day, yang seluruhnya itu bersumber dari Paganisme orang musyrik, Penyembah berhala dan penghormatan kepada pastor. Bahkan tidak ada kaitannya dengan kasih sayang. Masihkah sohib naber’s ingin merayakannya? Katanya ngaku beriman dan orang islam? Berarti kalau masih merayakan dan ikut-ikutan berarti iman dan islamnya perlu dipertanyakan lagi tuh..? (alias iman dan islam KTP). MasyaaAllah.. Sohib naber’s azzakumullah.. jadi dah tau to sekarang kalau Valentine’s day boleh atau tidak? Boleh ndak dirayakan dan diikuti? Pasti jawaban dihati sohib naber’s bilang gak boleh, ya kan?  Apa masih kurang buktinya tentang tidak bolehnya ngrayain atau ikut-ikutan atau bisa dikatakan haramnya Valentine’s day?

Menyoroti Valentine’s Day

Lajnah Da’imah Arab Saudi pernah ditanya tentang perayaan Valentine’s Day, mengucapkan ucapan tentang Valentine’s Day, memberikan hadiah dan menyediakan alat-alat untuknya, lantas dijawab oleh lajnah :

“Dalil-dalil yang jelas dari Al Qur’an dan Sunnah serta kesepakatan Ulama salaf telah menegaskan bahwa perayaan dalam Islam hanya ada dua, Idul Fitri dan Idul Adha. Adapun perayaan-perayaan lainnya yang berkaitan dengan tokoh, kelompok, atau kejadian tertentu adalah perayaan yang diada-adakan. Tidak boleh umat Islam merayakannya, menyetujuinya, menampakkan kegembiraan padanya, atau membantu kelancarannya karena hal itu berarti melanggar hokum Allah yang merupakan suatu tindak kedzaliman.

Dan bila perayaan tersebut merupakan perayaan orang kafir maka makin parah dosanya sebab hal itu termasuk tasyabuh (menyerupai) mereka dan termasuk bentuk loyalitas kepada mereka, sedangkan Allah dalam Al Qur’an yang mulia telah melarang kaum mukminin menyerupai orang-orang kafir dan loyal kepada mereka. Juga , telah shohih bahwa Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari kaum tersebut.” (HR. Ahmad)

Perayaan Valentine’s Day termasuk hal yang diatas. Maka tidak boleh umat islam yang beriman kepada Allah dan hari akhir ikut merayakannya, menyetujuinya, dan mengucapkan selamat untuknya. Bahkan yang wajib adalah meninggalkannya dan menjauhinya sebagai ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya serta menjauhi sebab kemurkaan Allah. Sebagaimana pula diharamkan membantu semaraknya acara ini atau perayaan-perayaan haram lainnya baik dalam jual beli, mengirim kartu, mencetak, mensponsori, dan sebagainya karena semua itu termasuk tolong-menolong dalam dosa dan kemaksiatan.

Allah berfirman, “….Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran…..” (al-Maidah: 2)[Fatawa Lajnah Da’imah Lil-Buhuts Ilmiyah Wal-Ifta’]

Jawaban Syaikh Muhammad Al Utsimin mengenai perayaan Valentine’s Day itu tidak boleh karena

Pertama: VD adalah acara bid’ah yang tidak ada dasar hukumnya dalam agama Islam
Kedua: Dapat menyebabkan hati sibuk dengan perkara rendahan sepertini bertentangan dengan salafush shalih.

Jangan Ikuti Budaya Kafir

Begitulah sobat naber’s, Hari Valentine berasal dari mitos zaman Romawi yang seluruhnya tidak lain adalah bersumber dari paganism syirik, penyembahan berhala dan penghormatan kepada Pastor. Selain itu, perayaan Valentine’s Day adalah salah satu maker orang-orang Yahudi yang diseludupkan kedalam tubuh umat islam supaya diikuti. Jadi, perayaan Valentine’s Day adalah salah satu upacara yang diadakan orang kafir dan orang-orang bergelimang dosa dalam rangka berbuat maksiat, mengumbar syahwat dan memenuhi hawa nafsu belaka.

Ingatlah wahai kaum muslimin, musuh-musuh Islam selalu berusaha sekuat tenaga untuk mengeluarkan kalian dari ajaran agama kalian!

Allah Ta’ala berfirman, “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah : “Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)….” (al-Baqoroh: 120) Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda, “Sungguh kalian akan mengikuti sunnah perjalanan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehingga mereka memasuki lubang dhab (hewan sejenis biawak di Arab) mereka berkata, “Wahai Rasulullah apakah mereka Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab, “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (Bukhari & Muslim)

Syaikh Sulaiman bin Abdullah Alu Syaikh Rahimahullahu berkata “Hadist ini merupakan mukjizat Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam karena sungguh mayoritas umatnya kini telah mengikuti sunnah perjalanan kaum Yahudi dan Nasrani dalam gaya hidup, berpakaian, Syi’ar-Syi’ar agama, dan adat-istiadat. Dan hadist ini lafazhnya berupa kabar yang berarti larangan mengikuti jalan-jalan selain agama Islam.”[Taisir Aziz Al Hamid]

Valentine, Hari Cinta?

Hmmm..sebagian orang mengatakan bahwa Valentine itu hari untuk menyebarkan kasih sayang dan cinta. Benarkah demikian? (Cinta apa Napsuu.. hayoo..) Bagaimana pendapat sohib naber’s? Sangat jelas jawabnya adalah Salah, bahkan pernyataan itu sangat memprihatinkan! Bukankah dengan demikian seolah-olah Islam tidak mengenal cinta kasih, padahal dalam Islam ajaran cinta kasih memiliki kedudukan tersendiri dengan skala prioritas sebagaimana tercantum dalam QS. Al-Baqoroh [2]:165, At-Taubah [9]-24, Al-Fath [48]:29, dan Al-Ma’idah [5]:54.Kasih sayang adalah sepanjang masa, bukan hanya satu hari.

Kelihaian dan kelicikan musuh Islam untuk menipu umat islam patut diacungi jempol. Valentine’s Day yang berbau syirik pun bisa terbungkus dan terpoles rapi hingga diminati dan digandrungi oleh generasi muda Islam yang tidak memiliki kekuatan ilmu agama.Sesungguhnya cinta dalam Valentine’s Day hanyalah cinta semu yang akan merusak akhlak dan norma-norma agama. Oleh karenanya, perhatikanlah bagaimana Valentine’s Day bukan hanya diingkari oleh pemuka Islam melainkan juga oleh pemuka agama-agama lainnya.

Di India misalnya, pernah diberitakan bahwa sejumlah aktivis dan pemuka agama hindu berkumpul di Bombay pada Sabtu, 14 Februari 2004. Dengan lantang mereka menyerukan agar tidak ikut-ikutan merayakan Valentine’s Day yang menganjurkan dekadensi moral dan merusak tradisi India. Seorang aktivis berteriak :’Valentine’s Day bukan bagian dari kepribadian dan tradisi agama kita. Selain itu, apa yang diajarkan oleh Valentine’s Day itu sungguh-sungguh akan merusak tatanan nilai dan norma kehidupan bermasyarakat warga India. Janganlah ikut-ikutan barat!!”[Kantor Berita Reuters 12 Februari 2005]

So, sohib naber’s azzakumullah, telah jelas dalam pembahasan di atas. Valentine’s Day bukan hari raya umat Islam bahkan dalam sejarahnya penuh dengan kesyirikan. Seyogyanya kita, selaku umat Islam, jangan ikut-ikutan merayakannya, mengucapkan selamat kepada yang merayakannya dan membantu memeriahkannya maupun memperdagangkan alat-alat yang digunakan. Apalagi kita sohib naber’s, para pemuda pemudi Islam, seyogyanya kita lebih sibukkan diri dengan belajar, ataupun hal yang bermanfaat lainya. Jadi sohib naber’s sekarang dari bukti-bukti yang telah dijelaskan bahwa Merayakan atau ikut-ikutan Valentin days hukumnya HA..RAM… dan berdosa bagi pelakunya. Otomatis Valentine’s day gak bolehdirayakan apalagi ikut-ikutan. Allahu A’lam bissowab.

Maroji’: Ditulis dari berbagai sumber dengan editing bahasa

(Abu Ibrahim AA dan Abu Muslim K; Alumni dan siswa SMAN 1 Gemolong)

Iklan

Gejolak Hati, “Kemana Pergi Keshalihan Remaja?”

bismillahSobat naber’s rahimakumullaah.. Pernahkah diantara kalian tatkala mengerjakan amal shalih secara istiqomah? Ada yang nyeletuk ‘eehh Pak ustadz…’ Atau ketika sobat sedang memberi mauidhoh hasanah (nasehat yang baik) terhadap teman, tiba-tiba ada yang nyeletuk lagi, ‘eeh sok Alim loe.. urus aja diri loe sendiri.. sok gaya loe jadi ustadz’ Atau ketika sobat diminta untuk salaman dengan yang bukan mahram lalu menolaknya dengan baik, ada lagi yang nyeletuk.. ‘eeh.. sok suci banget loe..!SubhanaAllaah… Pernahkah merasa seperti itu sobat ?

Keshalihan dimasa modern ini ibarat butiran-butiran berlian yang sangat langka, dan tertimbun oleh lumpur. Hanya yang memang pakar dibidang berlian yang mengetahuinya. Sedikit yang bisa menemukanya tapi tak sedikit yang tidak tau akan berlian tersebut. Apalagi keshalihan dikalangan ABG (Anak baru Gede) alias remaja dan remaji. Hmm.. bahkan mungkin sempat kita berfikir apakah dunia ini sudah tak layak lagi untuk dihuni para pemuda muslim yang shalih, berakhlak mulia, taat dan patuh terhadap apa yang telah agama ajarkan? Memang sudah kodrat bagi nilai-nilai keshalihan diawal Islam muncul dan diakhir zaman. Islam bermula dari keterasingan dan akan kembali asing, sebagaimana nabi kita yang mulia shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, “Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali asing, beruntunglah orang-orang yang asing.” (Shahih)

Dalam hadits yang lain nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menafsirkan, siapakah yang dimaksut orang asing tersebut, beliau bersabda, “Mereka adalah orang-orang shalih yang hidup dilingkungan orang-orang fasik, yang para pembangkang lebih banyak dari orang yang taat.” Semakin seseorang tinggal dalam lingkungan yang rusak, semakin juga dilabeli dengan julukan-julukan seperti diatas.

Sobat naber’s, kita kan masih muda ni ya.. hehe.. (masa muda umur 15 – 40) walaupun ada yang sudah lebih dari muda, insyaAllaah semangatnya masih muda. Masa muda adalah masa produktif, dimana semangat sedang tinggi-tingginya, keingintahuan sedang berada pada puncaknya, akan tetapi berbanding lurus pula, masa muda adalah masa yang penuh dengan godaan untuk memperturutkan hawa nafsu. Seorang pemuda yang sedang dalam masa pertumbuhan fisik maupun mental, banyak mengalami gejolak dalam pikiran maupun jiwanya, yang ini sering menyebabkan dia mengalami keguncangan dalam hidup dan berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari berbagai masalah tersebut.

Dalam kondisi seperti ini, tentu peluang untuk terjerumus ke dalam keburukan dan kesesatan yang dibisikkan oleh setan sangat besar sekali, apalagi Iblis yang telah bersumpah di hadapan Allah Ta’ala bahwa dia akan menyesatkan manusia dari jalan-Nya dengan semua cara yang mampu dilakukannya, tentu dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.

Allah Ta’ala berfirman,

{قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ. ثُمَّ لآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ}

Iblis berkata: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalangi-halangi) manusia dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka, dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)” (QS al-A’raaf: 16-17).

Sobat naber’s azzakumullah, pemuda yang cerdas adalah pemuda yang mendahulukan kalam Allah dan rasulNya didalam berperilaku sehari-hari. Jangan takut dikatakan orang aneh, sok suci, alim, ustadz…dsb. Ikhlaskan niat kita untuk Allah ta’ala, pasti Allah ta’ala akan menggantinya dengan yang lebih baik. Jelas karena Allah rabbul ‘alamin tidak akan mengingkari janjiNya. Ingatlah wahai pemuda pemudi.. dengan janji Allah azza wa jalla..

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِى ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ … وَشَابٌّ نَشَأَ فِى عِبَادَةِ رَبِّهِ»

Ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi oleh Allah dalam naungan (Arsy-Nya) pada hari yang tidak ada naungan (sama sekali) kecuali naungan-Nya: …Dan seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah (ketaatan) kepada Allah …” (HR. Bukhari)

Dalam hadits lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَعْجَبُ مِنَ الشَّابِّ لَيْسَتْ لَهُ صَبْوَةٌ»

Sesungguhnya Allah Ta’ala benar-benar kagum terhadap seorang pemuda yang tidak memliki shabwah.” Artinya: pemuda yang tidak memperturutkan hawa nafsunya, dengan dia membiasakan dirinya melakukan kebaikan dan berusaha keras menjauhi keburukan.

Karena itu wahai pemuda-pemudi… bulatkan tekat, benar-benar berazzam menjadi pemuda yang shalih, yang taat kepada aturan Allah, berbakti kepada orang tua, memiliki akhlak dan perangai yang mulia, memiliki prestasi disekolah dengan membanggakan, memanfaatkan waktu sehat dan waktu luang dengan hal yang bermanfaat. Sebagaimana nabi kita, shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, memberikan kita semangat dalam menjalani masa muda yang penuh gejolak ini, agar mengerjalan hal yang bermanfaat dan tidak melupakan negeri akhirat dengan belajar dan mengajarkan Agama Islam.

Bersemangatlah untuk hal yang bermanfaat bagimu, minta tolonglah pada Allah dan janganlah kamu lemah…”

Diakhir nasehat yang singkat ini, renungkanlah wahai syabab kaum muslimin, firman Allah ta’ala dengan penuh keimanan, “Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Rabbmu dan surga yang lebarnya selebar langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS. Al Hadiid: 21)

Penulis: Abu Ibrahim AA (Alumni SMAN 1 Gemolong tahun 2014)

Galau Pasca Ramadhan…

bismillah1      Tidak terasa sudah sebulan kita melewati bulan Ramadan, bulan yang penuh kemuliaan, keberkahan dan pengampunan dosa dari awal hingga akhir. Sobat naber’s, bagaimana kira kira perasaan kalian, setelah berlalunya Ramadhan tahun ini ? pasti bermacam macam reaksi perasaan kan ? ada yang sedih, senang karna dapat uang banyak atau bisa berkumpul dengan saudara, dan lain lain. Namun bagaimanakah sikap kita pasca idul fithri ? kami akan nukilkan beberapa kegalauan yang syar’i dari pada para ulama salaf karena berlalunya bulan Ramadhan.

Ramadhan_zps66999f9f

  1. Galau karena khawatir amalan tidak diterima

Tahukah sobat naber’s bahwa para ulama salaf terdahulu begitu bersemangat untuk melakukan dan menyempurnakan amalan amalan ketaatan kemudian mereka berharap harap agar amalan yang dikerjakan diterima oleh Allah Ta’ala dan juga agar memperoleh ampunan-Nya. Nah.. itulah galau yang syar’i.

        Simaklah perkataan Seorang sahabat yang mulia dan juga menantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, beliau pernah mengatakan, “Mereka para salaf begitu berharap agar amalan amalan mereka diterima dari pada banyak beramal. Bukankah engkau mendengar firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang orang yang bertakwa.” (QS Al Maidah : 27)

        Dari Fudholah bin ‘Ubaid, beliau mengatakan, “Seandainya aku mengetahui bahwa Allah menerima dariku satu amalan kebaikan sekecil biji saja, maka itu lebih kusukai daripada dunia dan seisinya, karena Allah berfirman  “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang orang yang bertakwa.” (QS Al Maidah berkata, “: 27)

Ibnu Diinar mengatakan, “Tidak diterimanya amalan lebih kukhawatirkan daripada banyak beramal.”

Abdul Aziz bin Abi Rowwad berkata, “ Saya menemukan para salaf begitu bersemangat untuk melakukan amal sholih. Apabila telah melakukanya, mereka merasa khawatir apakah amalan mereka diterima ataukah tidak.”

        Lihat pula perkataan ‘Umar bin Abdul Aziz berikut tatkala beliau berkhutbah pada hari raya Idul Fithri, “Wahai sekalian manusia, kalian telah berpuasa selama 30 hari. Kalianpun telah melaksanakan shalat tarawih setiap malamnya. Kalianpun keluar dan memohon kepada Allah agar amalan kalian diterima. Namun sebagian salaf malah bersedih ketika hari raya idul fithri. Dikatakan kepada mereka, “Sesungguhnya hari ini adalah hari  penuh kebahagiaan.” Mereka malah mengatakan, “Kalian benar, tetapi aku adalah seorang hamba. Aku telah diperintahkan oleh Rabb-ku untuk beramal, namun aku tidak mengetahui apakah amalan tersebut diterima ataukah tidak.”

        Itulah kekhawatiran para salaf. Mereka begitu khawatir kalau kalau amalanya tidak diterima. Namun berbeda dengan kita yang amalanya begitu sedikit dan sangat jauh dari amalan para salaf. Kita begitu santai tentang amalan yang pernah kita kerjakan, padahal sangat jauh kita dibanding para salaf. Dimana kita diantara mereka ?

  1. Galau karena takut dosanya tidak diampuni

        Sungguh orang yang melewati bulan Ramadhan tanpa mendapatkan pengampunan merupakan orang yang sangat rugi, sudah seharusnya kita berharap-harap cemas apakah dosa kita telah diampuni Allah? Banyak diantara kita jika Ramadhan sudah lewat kita akan kembali bersih seperti bayi, seperti itukah ? bagaimana mungkin dosa kita terampuni jika dosa-dosa besar masih di lakukan. Dosa-dosa kecil bisa terhapus jika dengan puasa bulan Ramadhan, shalat malam, dan juga menghidupkan malam lailatul qadar namun selama dosa dosa besar dijauhi.

        Sebagan ulama sampai mengatakan, “Para ulama Salaf biasa memohon kepada Allah selama enam bulan agar dapat berjumpa dengan Ramadhan, kemudian enam bulan sisanyamereka memohon kepada Allah agar amalan mereka diterima.” Sebagian kaum  muslimin begitu semangat memperhatikan puasanya sampai sampai shalat 5 waktunya ditinggalkan. Padahal meninggalkan shalat 5 waktu merupakan dosa yang besar.

     Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Kaum muslimin bersepakat bahwa meninggalkan shalat 5 waktu dengan sengaja merupakan dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari pada dosa membunuh, merampas harta orang lain, berzina, mencuri dan minum-minuman keras. Orang yang meninggalkanya akan mendapatkan hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapat kehinaandi dunia dan di akhirat.” (Ash Sholah wa Hukmu Tarikiha, hal. 7)

       Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Betapa banyak orang yang berpuasa namun  hanya mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ahmad 2:373. Syaikh Syuaib al Arnauth mengatakan bahwa sanadnya jayyid)

Dimanakah hari yang dikatakan suci sedangkan hak Allah di injak-injak?

Oleh karena itu, mari pertebal iman kita, senantiasa istiqomah dalam hal kesholihan, jangan sampai iman kita hanya iman musiman yang hanya satu bulan dalam setahun.

Penulis: Abu Ibrahim A
Sumber: Dikutip dari Buku Panduan Ramadhan karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal dengan sedikit perubahan

#Materi Buletin an-Naba’ edisi 2 tahun 2013

Hidayah Menyapaku Ditempat Parkir…

bismillah
Aku adalah seorang siswa dari SMA Negeri yang terkemuka di provinsi Jawa Tengah. Dilahirkan dalam keluarga yang biasa saja, tidak terlalu kental nuansa agama. Bisa dikatakan bahwa aku adalah anak yang nakal, namun tidak sampai over, sehingga masih tersisa dalam jiwa sebuah kecenderungan untuk taat dan mengingat akan apa resiko dari perbuatan yang dilakukan. Memang aku sangat awam terhadap Islam, padahal lingkunganku adalah sekitar pondok pesantren

Kisahku berawal saat pertama kalinya aku masuk sekolah, yaitu saat MOS atau Masa Orientasi Siswa. Kala itu seperti biasa ada sosialisasi dari organisasi-organisasi apa saja yang ada di sekolah. Satu persatu dari perwakilan organisasi tersebut mensosialisasikan organisasinya, pilihan pertamaku jatuh pada organisasi yang bergerak dalam bidang keamanan sekolah yaitu PKS, karena memang awalnya cita-citaku adalah menjadi polisi. Salah satu tahap awal menjadi polisi, pikirku kala itu.

Ada satu organisasi yang juga akhirnya aku ikuti, yaitu yang bernuansa agama, bergerak dalam bidang dakwah agama Islam yaitu ROHIS. Pada awalnya aku tak  menengok kearah organisasi ROHIS, karna diajak oleh temanku akhirnya akupun mengikutinya walaupun tidak serius. Saat ada rapat, pengajian, ataupun sekedar kumpul dengan teman seorganisasi, akupun kadang hadir kadang tidak, dengan berbagai alasan (banyak tidak hadirnya… hehe).

Walaupun sudah aku mengikuti ROHIS namun kelakuanku tetap saja masih seperti dulu, berkata kotor, menggoda wanita, menyontek, gemar berbohong, njiplak de-el-el. Karena semua pembelajaran yang diberikan ROHIS seolah-olah mental dari otakku, tak ada yang nyangkut, selama satu semester akupun masih saja gemar bermaksiat, tak pula aku indahkan syari’at. Setelah satu semester berlalu lambat laun akupun senang dengan ROHIS walaupun perilakuku hanya sedikit yang berubah, banyak teman ROHIS yang ramah, pintar, pokoke nggayengke. Aku hanya suka berkumpul dengan teman-temanku di ROHIS, jika ada kajian rutin tidak benar-benar kuhayati, hanya masuk telinga kanan langsung keluar di telinga kiri. Dan dari keakraban inilah dengan sendirinya pembelajaran tentang Islam melekat dalam otakku.

Barangkali inilah yang disabdakan Rasulullah Muhammad shallallahu’alaihi wasallam…

 “Perumpamaan teman yang baik dan teman yang jelek seperti pandai minyak wangi dan pandai besi. (Duduk dengan) penjual minyak wangi bisa jadi engkau akan dapati darinya aroma yang wangi. Sementara  (duduk dengan) pandai besi, bisa jadi ia akan membakar pakaianmu dan bisa jadi engkau akan dapati darinya bau yang tidak sedap.” (Muttafaq’alaih)

sebab-meraih-hidayah

Sebagaimana

Malik bin Dinar rahimahullah pernah berkata berkata:

وَصَاحِبْ خِيَارَ النَّاسِ تَنْجُ مُسْلِماً – – – – – – وَصَاحِبْ شَـرَّارَ النَّاسِ يَوْماً فَتَنْدَمَا

Bergaullah dengan orang-orang yang baik, niscaya engkau akan menjadi seorang yang selamat”
“(Namun) cobalah sehari saja engkau bergaul dengan orang-orang yang jelek, maka niscaya engkau akan menyesal (selamanya).”

Kala itu ada event besar dari ROHIS yaitu mengadakan Kajian untuk siswa sekolah pada hari ahad. Dan aku menjadi Seksi Keamanan mengingat aku juga mengikuti PKS. Saat itu aku jaga di bagian luar masjid mengatur tempat parkir. Ketika itu kakak kelas ada yang membawa sebuah buku yang sampulnya bergambar pohon judulnya Untukmu Yang Berjiwa Hanif (untuk anda yang sedang mencari kebenaran Islam yang sesungguhnya) yang ditulis oleh ustadz Armen Halim Naro, Lc rahimahullah.

Kupinjam, kemudian ku baca, dan dari situlah kukenal Salaf, Ahlussunnah, dan Islam. Setelah kajian selesai, aku menyelidiki asal kata tersebut (salaf) dalam internet. Dan kutemui bahwa salaf adalahh 3 generasi terbaik umat Islam, yaitu masa para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in (al-Hadits). Dan kurasakan kenikmatan Islam setelah mengetahui jawaban yang terbesik dalam hatiku mengapa umat Islam sekarang menjadi berfirqah-firqah, bukankah islam hanya satu ?

Jawaban dari pertanyaan itu ku temui dalam manhaj salafush shalih, metode atau tata cara beragama yang mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, para sahabatnya, dan para ulama yang berpegang teguh pada sunnah. Dengan metode at-Tashfiyyah yaitu memurnikan kembali ajaran yang telah terkotori menjadi bersih. Memurnikan aqidah Islam dari pemahaman dan pemikiran kelompok sesat. Membersihkan hadits Rasulullah dari hadits-hadits palsu, dhaif, munkar. Membersihkan semua penafsiran al-Qur’an yang tidak berdasarkan tafsir yang benar atau ta’wil yang salah dan dari tafsir riwayat yang tidak shahih.

Dengan metode at-Tarbiyah yaitu upaya pembinaan yang tidak bertentangan dengan syari’at. Ada 3 landasan, yang pertama, difokuskan untuk membangkitkan aqidah tauhid  dan membersihkan dari syirik, bid’ah dan penyelewengan aqidah. Yang kedua adalah standar pembinaan yang benar adalah berdirinya tarbiyah berdasarkan al-kitab dan as-Sunnah dengan menyelaraskan penerapan salaf, dan mengembalikan penyampaian ilmu al-Qur’an dan sunnah secara langsung  mengacu pada pemahaman salafush shalih dengan bantuan para ulama rabbani yang telah kenyang dengan al-Qur’an dan sunnah. Yang ketiga adalah pembinaan yang dapat beradaptasi dari pengaruh pemahaman akhlaq, adat, kebudayaan, social dan politik. (At-Tashfiyyah wat Tarbiyyah, hal. 100-101 dikutip dari Untukmu Yang Berjiwa Hanif)

            Dan telah kudapati bahwa manhaj salaf adalah jalan tengah diantara berbagai firqah menyimpang, jalan yang lurus, jalan yang ditempuh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya. Berkata Syaikhul Islam ibnu Taimiyyah rahimahullah, “Dan tidaklah tercela bagi orang yang menampakkan diri sebagai pengikut madzhab salaf, menyandarkan diri kepadanya dan merasa mulia dengannya. Bahkan wajib menerima pengakuannya itu dengan dasar kesepakatan (para ulama). Karena sesungguhnya madzhab salaf tidak lain adalah kebenaran itu sendiri.”(Majmu’ fatawa 4/419)

Alhamdulillah puji syukur senantiasa tercurah kepada Allah Ta’ala, yang telah menunjukanku manhaj yang mulia ini, yang telah mengubahku dari orang yang tidak tau sama sekali tentang dienul Islam sampai sekarang ini. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, para sahabatnya, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan sebaik-baiknya.

Duhai celakanya aku… tatkala merenungi suatu hadits..

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda..

المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل

“Seseorang itu menurut agama teman dekatnya, maka hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)

Sedangkan disisi kanan dan kiriku kurangkul dengan akrab teman yang buruk…

Tidakkah kita merenungi firman Allah ini…

Allah Ta’ala berfirman

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا ( ) يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا ( ) لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا

“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang dzalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.” (QS. Al Furqan: 27-29)

Wahai kawan….

Wahai sahabatku….

Wahai saudaraku..

Penyesalan selalu datang terlambat..

Bergegaslah menuju keberuntunganmu..

Pilihlah teman baik..

Yang mengajakmu menuju kebaikan..

Yang mennegurmu tatkala salah..

Yang membicarakan hal yang baik..

Semoga Allah merahmati kita semua..

**************

Penulis : Abu Ibrahim AA

Artikel : https://mkismangemolong.wordpress.com

Seputar Mandi Janabah..

bismillah1

            Ketika seseorang mencapai umur baligh, maka ia akan mengalami tanda-tanda kedewasaan. Seperti mimpi basah bagi laki-laki dan haidh bagi wanita. Orang yang mengalami hal tersebut, maka ia dalam keadaan berhadats besar (junub). Adapun cara mensucikannya adalah dengan mandi wajib atau janabah.

            Mandi janabah atau mandi wajib atau mandi besar diambil dari istilah bahasa arab al ghoslu atau al ghuslu. Al ghoslu lebih masyhur dikalangan ahli bahasa sedangkan Al ghuslu lebih masyhur dikalangan ahli fiqh, yang berarti meratakan air ke badan dengan cara mandi. Adapun menurut syariat adalah meratakan air yang suci ke seluruh badan dengan tata cara yang khusus. Allah berfirman, “Dan jia kamu junub maka mandilah”. (Al-maidah : 6)

AIR BERSIH

HAL-HAL YANG MEWAJIBKAN MANDI JANABAH

  1. Keluar mani

Hal ini berdasar hadist Nabi Shallallahu Alaihi Wa Salam,”Apabila engkau mengrluarkan mani maka lakukanlah mandi janabat, apabila tidak mengeluarkan mani, maka janganlah enkau mandi”. (H.R Ahmad dan dihasankan Syaikh Albani dalam Irwa’ul Gholil)

  1. Jima’ (berhubungan suami istri) meskipun tidak mengeluarkan mani

Rasulullah shallallahu Alaihi Wa Salam bersabda,”Apabila seseorang menggauli istrinya , maka wajib mandi sekalipun tidak mengeluarkan mani”. (H.R Muslim)

  1. Suci dari haidh dan nifas

Rasulullah shallallahu Alaihi Wa Salam bersabda,”Apabila datang haidhmu, maka tinggalkanlah sholat dan apabila telah suci, maka mandi serta sholatlah”. (H.R Bukhori dan Muslim)

  1. Orang kafir masuk islam baik dari yang asli maupun dari yang murtad

Berdasarkan hadits Qois bin Ashim, dia berkata,”saya datang kepada Nabi hendak masuk islam, maka beliau memerintahkan kepadaku agar mandi dengan air dan daun bidara”. (H.R Ahmad)

  1. Orang islam yang meninggal tidak dalam keadaan syahid dimedan peperangan

Hal ini berdasar sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wa Salam terhadap seseorang yang berihrom kemudian meninggal karena terlempar oleh untanya sendiri,”Mandikanlah dia dengan air dan daun bidara”. (H.R Bukhori dan Muslim)

SYARAT-SYARAT MANDI JANABAH

  1. Niat (dalam hati dan tidak diucapkan).
  2. Berakal dewasa.
  3. Air yang suci dan mubah.
  4. Meniadakan hal-hal yang menghalangi sampainya air ke anggota wudhu, terhentinya hal-hal yang mewajibkan mandi.

TATA CARA MANDI JANABAH YANG SEMPURNA

  1. Niat mandi sempurna di dalam hati.
  2. Mengucapkan Bismillah.
  3. Memulai dengan membasuh tangan sebanyak tiga kali.
  4. Membasuh kemaluan dengan tangan kiri lalu mencuci kedua tangan dengan tanah atau sejenisnya (sabun).
  5. Berwudhu seperti berwudhu untuk sholat dan mengakhirkan kedua kakinya pada penghabisan mandi. Memasukkan jari-jarinya ke air lalu menyela-nyela rambut dengan jari-jarinya sampai merata.
  6. Menggunakan air diatas kepala tiga kali dimulai dengan bagian kepala kanan kemudian kiri kemudian tengah. Wanita tidak perlu mengurai rambut kepala ketika mandi janabah dan disunnahkan mengurainya ketika mandi haidh.
  7. Menuangkan air keseluruh tubuh dimulai dari tubuh sebelah kanan.
  8. Berpindah tempat dari tempat semula, lalu membasuh kedua kakinya.

Maroji’ : Buletin An-naba’ Edisi 18/dzulqo’dah 1329 H

%d blogger menyukai ini: