Renungan “Pitulasan” Nasehat Singkat 70 Tahun Kemerdekaan Indonesia

bismilah_4Oleh: Ust. Sholeh Gunawan, Lc.

Sukur Nikmat yang Sesuai Sunnah Rasul

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan maksut Allah Ta’ala agar menjadi hamba yang dikatakan telah mensyukuri nikmat Allah Ta’ala, “Mudah-mudahan kalian menjadi orang yang bersyukur.” (QS. al-Baqarah, 185). Maksutnya adalah jika kalian melaksanakan perintah Allah, menjalankan berbagai macam ketaatan, berupa amal-amal yang wajib juga kalian meninggalkan semua yang diharamkan oleh Allah, dan kalian juga senantiasa menjaga rambu-rambu syariat Alah, maka jika ini semua berhasil kalian lakukan mudah-mudahan kalian dinilai sebagai hamba Allah yang “Asy-Syakiriin” telah mampu mensyukuri nikmat-nikmatnya. (Tafsir al-Qur’anul Adzim, Juz 1 hal 348)

Dari Nu’man bin Basyir, Rasulullah ﷺ bersabda, “Membicarakan kenikmatan dari Allah (dengan lidahnya dengan kata-kata ‘Alhamdulillah rezei ini dari Allah atau semisalnya’) termasuk dalam bentuk syukur nikmat, adapun diam (tidak membicarakan nikmat Allah) maka termasuk kufur nikmat. Barangsiapa yang tidak mensyukuri nikmat yang kecil iapun tidak akan mensyukuri nikmat yang banyak, dan barangsiapa tidak mensyukuri pemberia manusia maka niscaya dia tidak akan mensyukuri pemberian Allah….” (Dihasankan leh Syaikh Albani, Shohibul Jami’ 3014)

Kata al Imam al Munawi rahimahullah, mensyukuri nikmat itu dengan tiga cara:

  1. Lidah seseorang mengungkapkan bentuk syukur nikmat (menyebut Dzat yang memberi nikmat Ar-Razzak).
  2. Hati seseorang mengimani dan menyadari betul bahwa semua kenikmata yang ia dapatkan (sehat, selamat, naik pangkat, menikah, punya keturunan, indonesia merdeka, mudah beribadah, bakti ortu, disenangi masyarakat dll) adalah merupakan karunia Allah.
  3. Segenap anggota tubuuh orang yang mendapat nikmat itu dikhidmatkan (dipergunakan) untuk mengajarkan berbagai macam amal ibadah. (al-Faid, 7/4263)

Hamba Allah yang semacam inilah yang berhak mendapat limpahan kenikmatan-kenikmatan yang lainya yang jumlahnya sangat banyak yang dicurahkan oleh AR-Razzak, sebagaimana firman Allah yang berikut ini, renungi dan tadabburilah, “Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur sesungguhnya Aku (Allah) akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu kufur (mengingkari) nimat-Ku maka pasti adzab-Ku (Allah) sangat berat.” (QS. Ibrahim, 7). Marilah setiap kita memperoleh kenikmatan hendaknya mencontoh Rasulullah ﷺ dalam hal cara mensyukurinya, sebab jika tidak mencontoh beliau dan kita merekayasa/menduga-duga/berinisiatif sendiri/mengikuti ide lain tanpa dalil hadits shahih dalam mensyukuri nikmat Allah tersebut maka pastilah kita akan terperosok kedalam jurang kesesatan. Kita menganggapnya mensyukuri nikmat Allah, akan tetapi Allah menganggapnya sebagai perbuatan yang kufur nikmat karena tidak meniru tuntunan Rasulullah ﷺ dan akhirnya harapan untuk mendapatkan tambahan kenikmatan yang lainya, malah justru mendapatkan adzab, musibah, bencana, ciloko, marabahaya yang fatal dan mengenaskan.

Syukur Nikmat Acara 17-an Pie Carane supaya acara syukur kemerdekaan tidak salah kaprah? Dan agar Allah menurunkan nikmat-nikmat yang lainya untuk negara Indonesia tercinta bumi pertiwi ini?

Fahamilah arti syukur nikmat yang telah dijelaskan Ibnu Katsir diatas dengan penuh penghayatan dan ketundukan kepada Allah, Dzat pemberi kenikmatan kemerdekaan untuk bangsa Indonesia, agar negara ini menjadi subur makmur, adil makmur, gemah ripah loh jinawi, toto tentrem karto raharjo, tanpa musibah, bencana alam, pesawat jatuh, kemarau panjang, kebakaran pasar, sembako murah, hasil bumi melimpah dan sebagainya ? Mari fikirkan.

Rasulullah ﷺ tatkala berhasil, “Memerdekakan kota Makkah al-Mukarrahamah” dari belenggu jahiliyah kesyirikan pada tahun 8 hijriyah, beliau bersama 10.000 shahabatnya memsauki kota Makkah kemudian beliau kerumah Ummu Hanni binti Abi Thalib dan melaksanakan shalat 8 rakaat shalat rasa syukur nikmat dikenal dengan, “Shalatul-fathi” shalat kemenangan (Shahih Bukhari 7/595, ar-Rahiqul Makhtum hal, 349). Beginilah seharusnya seorang hamba dan pengikut Nabi Muhammad ﷺ dalam mengungkapkan rasa syukur nikmat dengan ilmu dan penghambaan total kepada sang Khaliq, bukan dengan melakukan kemungkaran, dosa, hura-hura yang mengandung murka Allah ! Minimal sujud syukur kepada Allah. Renungilah…

Dari Abu Bakrah, sesungguhnya rasulullah ﷺ jika mendapatkan sesuatu yang membahagiakan hatinya atau diberi berita yang menggembirakan maka beliau ﷺ serta merta bersujud berterimakasih pada Allah. (Hasan Lighairihi, Abu Daud, 2774).

Amanat Para Pejuang Kemerdekaan Indonesia untuk Generasi Penerus Agar Menaati Allah

 Para pendiri bangsa telah berusaha keras untuk menggolkan konsep Piagam Jakarta (Pembukaan UUD 45) yang bernafaskan Islam, simaklah berikut ini, “Pembukaan, bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu penjajahan diatas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan. Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah pada saat yang berbahagia, dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia kedepan pintu gerbang negara Indonesia. Atas berkat Allah yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan dengan keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas dengan ini rakyat Indonesia menyatakan kemerdekanya…dst. maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu hukum dasar negara Indonesia yang berbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada, Ketuhanan dengan kewajiban melaksanakan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya…..”

Dari naskah UUD 1945 diatas sangat jelas nuansa islami telah menjiwai hati nurani anggota BPUPKI yang beranggotakan 62 orang yang diketuai oleh Dr. RadjimanWidyodiningrat dan Wakilnya R.P Soeroso didalamnya ada Soekarno, Muhammad Hatta, Abdul Kahar Muzakkir, Ahmad Soebarji, A.A Maramis Muhammad Yamin, dll. Namun sayang seribu sayang ternyata kalimat (dengan mewajibkan syariat Islam…dst) dihapus oleh Bapak Ir. Soekarno yang menerima ide salah seorang anggota BPUPKI yang beragama protestan yaitu Latuharhari. Penghapusan ini secara resmi pada tanggal 18 Agustus 1945 saat pengumuman UUD 1945. Allah Ta’ala mempunyai hikmah dan kehendak dibalik kejadian ini.

Padahal “Guru Besar” Bapak Soekarno yang bernama H.O.S Cokroaminoto, telah menanamkan akidah kepada para muridnya yaitu, Muso Alimin, Semaun, Ir. Soekarno, Kartosuwiryo dan lainya, “Dengan semurni-murni Tauhid, dengan setinggi-tinggi ilmu, dengan sepintar-pintar siasat, marilah kita berdakwah membela agama Allah.” Begitu juga panglima besar jendral Soedirman pada saat pertempuran besar diambarawa 1 Maret 1949 beliau berkata, “Kita harus terus terang menaki bahwa persenjataan kita masih sangat kurang dibandingkan persenjataan musuh yang serba lengkap dan modern jika kekuatan lahir kalah kuat maka tidak ada jalan lain untuk menang, kecuali dengan mengandalkan kekuatan batin yaitu kekuatan yang datang dari pertolongan Dzat Yang Maha Kuat yaitu Allah Ta’ala. Hendaknya perjuangan kita didasarkan pada kesucian dengan demikian perjuangan kita merupakan perjuangan jahat melawan suci, kami percaya bahwa perjuangan yang suci akan mendapat pertolongan Allah Ta’ala.”

Oleh karena itu, marilah kita isi kemerdekaan dengan cara mensyukuri nikmat Allah ini sebagaimana Rasulullah ﷺ mencontohkan tatkala mendapatkan kemenangan baik pada saat Fathu Makkah atu peperangan lainya. Dan jangan mengisi kemerdekaan ini dengan dosa, maksiat yang pada umumnya masyarakat tidak menyadarinya, seperti seorang pria yang lomba dengan busana wanita atau wanita berpakaian pria, semua ini mendatangkan laknat Allah, juga mewaspadai acara, “malam puncak 17an” dengan berjoget ria dilapangan atau tirakatan dikuburan pahlawan dan acara semisalnya. Renungilah sabda Rasulullah ﷺ berikut ini, “Allah melaknat (mengutuk) wanita yang berpakaian dengan pakaian pria dan Allah juga mengutuk laki-laki yang berbusana dengan busana wanita.” (Abu Daud, 4/4098).

Hadits yang berisi laknat Allah ini harusnya menjadikan takut dan kapok serta taubatnya mereka yang ikut semacam “Joget Bola” dengan berpasangan atau dengan bal-balan memakai daster agar lebih meriah. Keahuilah wahai saudaraku seiman rahimakumullah seseorang yang telah bersyahadat, asyhaduanna muhammadarrasulullah, harus mengamalkan 4 rukun syahadat ini yaitu:

  1. Menaati semua perintah nabi Muhammad ﷺ
  2. Membenarkan semua yang dikatakan oleh nabi Muhammad ﷺ
  3. Meninggalkan dan menjauhi segala yang dilarang atau diwaspadai oleh beliau ﷺ
  4. Tidak beribadah (menyembah) Allah melainkan dengan petunjuk beliau ﷺ (Utsul Tsalatsah, Bab : Makna Syahadatain, hal 336, Ma’asy syarbihi).

Rasulullah ﷺ telah mencontohkan bagaimana carana mensyukuri nikmat kemerdekaan kota makkah, maka hendaknya kita mencontohkanya dalam praktek sehari-hari, InsyaAllaah negara kkita akan mendapat tambahan kenikmatan yang lainya, Aamiin.

Sekalipun adat istiadat/tradisi mengharuskan rame, meriah, gegap gempita, gembira ria bahkan hura-hura penuh dosa dan maksiat, maka sunnah Rasulullah tadi tidak bisa dikalahkan dengan tradisi dan adat istiadat. Mari kita renungi firman Allah, “Dan jika kamu (Muhammad) mengikuti kebanyakan orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Yang mereka ikuti hanya prasangka belaka dan mereka hanya membuat kebohongan.” (al-An’am, 116)

Jika tradisi dan adat istiadat bertentangan dengan sunnah Rasulullah ﷺ maka adat tradisi tidak boleh diamalkan, kita lebih mengutamakan tuntunan rasulullah ﷺ. Marilah kita berlomba mengejar mencari ridho Allah, dan janganlah kita mengejar ridha manusia, atasan, pimpinan atau siapapun juga. (al Wajiz, hal 203 dan Ilmu Ushul Fiqh, 79)

Semoga nasehat renungan “Pitulasan” ini berharga dan bermanfaat.

********

Ditulis ulang oleh Abu Ibrahim AA

Alumni MKI tahun 2014

Iklan

About Rohis_SMAN1G

Rohis SMAN 1 Gemolong adalah organisasi Rohani Islam yang ada di sekolah kami

Posted on 19 Agustus 2015, in Nasehat and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: